Langsung ke konten utama

Petani dan Lahan Sawah Menipis, Masih Layak kah Indonesia disebut Negara Agraris?

Kita pasti udah ga asing lagi kan denger sebutan "Indonesia adalah negara agraris". Lalu pertanyaannya apa sih negara agraris.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri , agraris memiliki tiga pengertian. Pengertian pertama adalah mengenai pertanian atau tanah pertanian. Pengertian kedua adalah mengenai pertanian atau cara hidup petani. Serta, yang ketiga adalah bersifat pertanian.

Secara sederhana negara agraris ialah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja disektor pertanian. Sehingga secara otomatis perekonomian negara tersebut didasarkan pada memproduksi dan mempertahankan tanaman dan lahan pertanian.

Banyak hal yang memfaktori Indonesia menjadi negara agraris. Seperti kondisi geografi indonesia, sumber daya alam dan lahan yang melimpah, iklim yang mendukung dan faktor lainnya yang tidak heran juga zaman dahulu nenek moyang kita sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Namun melihat kondisi saat ini apakah Indonesia masi layak di sebut negara agraris?

1. Profesi Petani Banyak Ditinggalkan
Seperti dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini hanya ada 29,3 juta petani atau berkurang dari tahun 2013 yang mencapai 31 juta petani.

Selain itu BPS juga merilis data ketenagakerjaan Indonesia dominasi pekerjaan penduduk saat ini adalah sebagai Buruh/Karyawan/Pegawai yang artinya profesinya petani sudah tidak lagi menjadi profesi utama penduduk Indonesia
 
Salah satu faktornya adalah harga jual hasil pertanian yang tak sebanding dengan pengeluaran yang dicurahkan. Belum lagi krisis iklim yang terjadi menambah sulitnya petani membudidayakan tanamannya.

2. Minat Generasi Muda Menurun
Regenerasi petani di Indonesia cukup mengkhawatirkan karena kurangnya minat pemuda untuk masuk sektor pertanian.

Di mana banyak anak muda tidak melirik industri pertanian karena dianggap tidak menjanjikan ketimbang kerja kantoran.

Tidak bisa dipungkiri bahwa bekerja pada sektor pertanian sangat tidak menggiurkan, jika dilirik dari rata-rata pendapatan bersih yang diterima saat ini. Apabila kondisi ini tidak kunjung membaik, tak heran bila regenerasi tenaga kerja pada sektor pertanian pun akan semakin langka.

3. LahanPertanian Terkikis
Pada 2023, luas panen padi diperkirakan sebesar 10,20 juta hektare.

Luas panen padi pada 2023 diperkirakan sekitar 10,20 juta hektare,mengalami penurunan sebanyak 255,79 ribu hektare atau 2,45 persen dibandingkan luas panen padi di 2022 yang sebesar 10,45 juta hektare.(Senses Pertanian 2023, Badan Pusat Statistik)

Tak bisa dipungkiri bahwa lahan pertanian saat ini banyak yang dijadikan bangunan-banguanan dan tidak dicarikannya lokasi penganti sehingga luas lahan pertanian semakin menurun.

5. Produktivitas 
Pada 2023 produksi padi sekitar 53,63 juta ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2023 diperkirakan sebesar 30,90 juta ton.

Produksi padi pada 2023 diperkirakan sebesar 53,63 juta ton GKG, mengalami penurunan sebanyak 1,12 juta ton GKG atau 2,05 persen dibandingkan produksi padi di 2022 yang sebesar 54,75 juta ton GKG.

Yaa dengan berkurangnya lahan pertanian tentunya akan mempengaruhi produksi tanaman sehingga julmah pemanenan pun mengalami penurunan.


Namun Indonesia masih memiliki harapan besar sebagai agraris tinggal bagaimana seluruh komponen masyarakat dan pihak terlait bisa berkoordinasi mengatasi masalah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Agritech 4.0: Menggagas Revolusi Digital di Dunia Pertanian"

Diabad ke dua puluh satu kita sudah masuk pada era digitalisasi. Digitalisasi adalah proses perubahan yang terjadi pada teknologi bersifat analog ke teknologi bersifat digital. Proses yang terjadi kemudian banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, hingga saat ini industri sudah semakin modern dan mengandalkan teknologi tersebut untuk terus menopang operasionalnya. Dengan adanya digitalisasi diharapkan kinerja manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Sehingga digitaalisasi menjadi hal yang krusial untuk dilakukan disemua sektor tak kerkecuali sektor pertanian. Transformasi digital di bidang pertanian perlu digalakan. Perangkat IoT industri, robotika, konektivitas satelit, kecerdasan buatan, dan platform cloud-edge mendorong percepatan sektor ini. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa produksi tanaman perlu meningkat sebesar 60-70% pada tahun 2050 untuk memenuhi permintaan populasi global yang terus meningkat.  Pengelolaan ener...